Bayu

Jalan-jalan di Indonesia Ternyata Sempitt

In Uncategorized on November 7, 2012 at 1:15 pm

Setelah lebih dari 10 tahun tinggal di Oz, akhirnya suatu ketika aku pulang ke tanah air. Hari pertama aku di jemput temanku, dan kami langsung di hadapkan pada lalu lintas Jakarta yang penuh dengan motor di sana sini. 

Yang mengagetkan, ternyata jalan di kompleks rumah tempat tinggal ku kok terasa kecil ya.. Dan herannya dua mobil bisa muat lewat jalan itu. Itu kesan pertama, setelah dua bulan kemudian aku baru terbiasa dengan jalan-jalan yang serba kecil, tapi muat diisi dua mobil berpapasan. Kalau pun kurang lebar, masing-masing pengendara sudah tahu kapan akan minggir atau mengalah. Walau banyak juga yang tidak mau mengalah.

Waduh.. kelamaan di luar nih..

Advertisements

Antara Mike dan Mate

In Uncategorized on May 17, 2012 at 7:37 am

Pertama kali sampai di Australia, yang pertama-tama aku cari tahu adalah transportasi. Yang murah tentunya transportasi dengan bis, dan alternatif lain ya kereta api. Tapi sayang untuk kota kecil tempat aku tinggal pertama kali ini, tidak banyak bis yang lewat. Jadi harus benar-benar berencana matang kalau tidak mau menunggu terlalu lama di halte bis. Untungnya jadwalnya selalu tepat. Walau kadang tidak terlalu tepat benar sih, tapi umumnya tidak lebih dari lima menitlah. Buat yang sudah terbiasa dengan lalu lintas di Jakarta, tentunya ini hal yang luar biasa.

Seminggu atau dua minggu pertama aku naik bis, kesan pertamaku penumpangnya baik-baik. Setiap mereka turun, mereka mengucapkan terimakasih kepada pak supirnya. Suatu hal yang tidak aku temui di Indonesia. Dan ternyata ini juga berlaku di setiap kota yang pernah aku kunjungi di Aussie ini. Belakangan aku baru tahu kalau memang kita membayar tiket bukan untuk Pak Supir bisnya, tapi untuk council atau dewan kota. Dan dewan kota yang membayar para supir bis ini. Jadi memang wajar jika kita mengucapkan terimakasih kepada para supir ini. 

Kesan lain yang menarik di minggu-minggu awal, adalah banyak penumpang yang mengetahui nama supirnya. Telingaku mendengar mereka mengucapkan “Thanks Mike”..  Dan  karena aku menggunakan rute yang sama, dan supir yang ‘mungkin’ sama, wajar saja mereka pada kenal dengan si Mike ini. Belakangan aku sadar, kalau supirnya berbeda, dan para penumpang tetap berterimakasih pada si Mike ini.

Beberapa minggu sesudah itu, aku membicarakan hal ini kepada seorang teman yang sudah jauh lebih lama tinggal di Australia.. aduh malunya, ternyata yang diucapkan itu bukan ‘Mike’ tapi ‘Mate’.. hehehe.. Mate adalah sapaan yang sangat biasa buat orang Australia. Sapaan yang membuat orang Australia berbeda dengan orang Inggris atau orang Amerika. Aksen Australia untuk mengucapkan huruf A nya juga berbeda dengan kerabatnya orang Inggris dan Amerika. Huruf A cenderung diucapkan seperti ‘A’ dalam bahasa Indonesia, berbeda dengan pengucapan ‘A’ oleh orang Inggris atau Amerika.  Baru belakangan ini juga aku bisa bedain aksen ketiga bangsa ini. Dan belakangan aku juga bisa bedain aksen Inggris India ataupun Inggris Singapur.

 

Antara Mike dan Mate

In funny on May 17, 2012 at 7:35 am

Pertama kali sampai di Australia, yang pertama-tama aku cari tahu adalah transportasi. Yang murah tentunya transportasi dengan bis, dan alternatif lain ya kereta api. Tapi sayang untuk kota kecil tempat aku tinggal pertama kali ini, tidak banyak bis yang lewat. Jadi harus benar-benar berencana matang kalau tidak mau menunggu terlalu lama di halte bis. Untungnya jadwalnya selalu tepat. Walau kadang tidak terlalu tepat benar sih, tapi umumnya tidak lebih dari lima menitlah. Buat yang sudah terbiasa dengan lalu lintas di Jakarta, tentunya ini hal yang luar biasa.

Seminggu atau dua minggu pertama aku naik bis, kesan pertamaku penumpangnya baik-baik. Setiap mereka turun, mereka mengucapkan terimakasih kepada pak supirnya. Suatu hal yang tidak aku temui di Indonesia. Dan ternyata ini juga berlaku di setiap kota yang pernah aku kunjungi di Aussie ini. Belakangan aku baru tahu kalau memang kita membayar tiket bukan untuk Pak Supir bisnya, tapi untuk council atau dewan kota. Dan dewan kota yang membayar para supir bis ini. Jadi memang wajar jika kita mengucapkan terimakasih kepada para supir ini.

Kesan lain yang menarik di minggu-minggu awal, adalah banyak penumpang yang mengetahui nama supirnya. Telingaku mendengar mereka mengucapkan “Thanks Mike”..  Dan  karena aku menggunakan rute yang sama, dan supir yang ‘mungkin’ sama, wajar saja mereka pada kenal dengan si Mike ini. Belakangan aku sadar, kalau supirnya berbeda, dan para penumpang tetap berterimakasih pada si Mike ini.

Beberapa minggu sesudah itu, aku membicarakan hal ini kepada seorang teman yang sudah jauh lebih lama tinggal di Australia.. aduh malunya, ternyata yang diucapkan itu bukan ‘Mike’ tapi ‘Mate’.. hehehe.. Mate adalah sapaan yang sangat biasa buat orang Australia. Sapaan yang membuat orang Australia berbeda dengan orang Inggris atau orang Amerika. Aksen Australia untuk mengucapkan huruf A nya juga berbeda dengan kerabatnya orang Inggris dan Amerika. Huruf A cenderung diucapkan seperti ‘A’ dalam bahasa Indonesia, berbeda dengan pengucapan ‘A’ oleh orang Inggris atau Amerika.  Baru belakangan ini juga aku bisa bedain aksen ketiga bangsa ini. Dan belakangan aku juga bisa bedain aksen Inggris India ataupun Inggris Singapur.